PEMERINTAH KABUPATEN TASIKMALAYA

DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

SMP NEGERI 1 MANONJAYA

Jl. Tangsi No. 3 Ds. Manonjaya Kec. Manonjaya 46197 Tasikmalaya Prov. Jawa Barat

NPSN: 20210852 - Tlp. 0265-380907 / Email. mail@smpn1manonjaya-tsm.sch.id

TERKINI: Selamat datang di website resmi SMP Negeri 1 Manonjaya, kami menyediakan informasi tentang profil, pengetahuan umum, kegiatan, karya, dan dokumentasi sekolah kami pada situs ini, semoga bermanfaat, terimakasih.

CARI TULISAN


PENGUMUMAN TERBARU

Akreditasi Sekolah

Terakreditasi A

Sekolah Standar Nasional

JADWAL KEGIATAN


LOGIN FORM



Lupa Password? | Register »

POLLING SINGKAT

Buku Tamu

Buku Tamu

Ekstrakurikuler - PASUKAN PENGKIBAR BENDERA

PROFIL ORGANISASI
PASUKAN PENGIBAR BENDERA
  SMP NEGERI 1 MANONJAYA

  

( Pasukan Pengibar Bendera Pusaka)

Beberapa hari menjelang peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI pertama. Presiden Soekarno memberi tugas kepada ajudannya,Mayor M. Husein Mutahar untuk mempersiapkan upacara peringatanDetik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1946, dihalaman Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta

Pada saat itu, sebuah gagasan berkelebat di benak Mutahar. Alangkah baiknya bila persatuan dan kesatuan bangsa dapat dilestarikan kepada generasi muda yang kelak akan menggantikan para pemimpin saat itu. Pengibaran bendera pusaka bisa menjadi simbol kesinambungan nilai-nilai perjuangan. Karena itu, para pemudalah yang harus mengibarkan bendera pusaka. Dari sanalah kemudian dibentuk kelompok-kelompok pengibar bendera pusaka, mulai dari lima orang pemuda – pemudi pada tahun 1946 yang menggambarkan Pancasila.

Namun, Mutahar mengimpikan bila kelak para pengibar bendera pusaka itu adalah pemuda-pemuda utusan dari seluruh daerah di Indonesia. Sekembalinya ibukota Republik Indonesia ke Jakarta, mulai tahun 1950 pengibaran bendera pusaka dilaksanakan di Istana Merdeka Jakarta. Regu-regu pengibar dibentuk dan diatur oleh Rumah Tangga Kepresidenan Rl sampai tahun 1966. Para pengibar bendera itu memang para pemuda, tapi belum mewakili apa yang ada dalam pikiran Mutahar. Tahun 1967, Husain Mutahar kembali dipanggil Presiden Soeharto untuk dimintai pendapat dan menangani masalah pengibaran bendera pusaka. Ajakan itu, bagi Mutahar seperti “mendapat durian runtuh” karena berarti ia bisa melanjutkan gagasannya membentuk pasukan yang terdiri dari para pemuda dari seluruh Indonesia. tersirat dalam benak Husain Mutahar akhirnya menjadi kenyataan. Setelah tahun sebelumnya diadakan ujicoba, maka pada tahun 1968 didatangkanlah pada pemuda utusan daerah dari seluruh Indonesia untuk mengibarkan bendera pusaka. Sayang, belum seluruhnya provinsi bisa mengirimkan utusannya, sehingga pasukan pengibar bendera pusaka tahun itu masih harus ditambah dengan eks anggota pasukan tahun 1967.

Selama enam tahun, 1967-1972, bendera pusaka dikibarkan oleh para pemuda utusan daerah dengan sebutan “Pasukan Penggerek Bendera Pusaka”. Nama, pada kurun waktu itu memang belum menjadi perhatian utama, karena yang terpenting tujuan mengibarkan bendera pusaka oleh para pemuda utusan daerah sudah menjadi kenyataan. Dalam mempersiapkan Pasukan Penggerek Bendera Pusaka, Husein Mutahar sebagai Dirjen Udaka (Urusan Pemuda dan Pramuka) tentu tak dapat bekerja sendiri. Sejak akhir 1967, ia mendapatkan dukungan dari Drs Idik Sulaeman yang dipindah tugaskan ke Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

(dari Departemen Perindustrian dan Kerajinan) sebagai Kepala Dinas Pengembangan dan Latihan. Idik yang terkenal memiliki karakter kerja sangat rapi dan teliti, lalu mempersiapkan konsep pelatihan dengan sempurna, baik dalam bidang fisik, mental, maupun spiritual. Latihan yang merupakan derivasi dari konsep Kepanduan itu diberi nama ”Latihan Pandu Ibu Indonesia Ber-Pancasila”. Setelah melengkapi silabus latihan dengan berbagai atribut dan pakaian seragam, pada tahun 1973 Idik Sulaeman melontarkan suatu gagasan baru kepada Mutahar. ”Bagaimana kalau pasukan pengibar bendera pusaka kita beri nama baru,” katanya. Mutahar yang tak lain mantan pembina penegak Idik di Gerakan Pramuka menganggukkan kepala. Maka, kemudian meluncurlah sebuah nama antik berbentuk akronim yang agak sukar diucapkan bagi orang yang pertama kali menyebutnya. Akronim itu adalah PASKIBRAKA, yang merupakan singkatan dari Pasukan Pengibar Bendera Pusaka. ”Pas” berasal dari kata pasukan, ”kib” dari kata kibar, ”ra” dari kata bendera dan ”ka” dari kata pusaka. Idik yang sarjana senirupa lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) itupun juga segera memainkan kelentikan tangannya dalam membuat sketsa. Hasilnya, adalah berbagai atribut yang digunakan Paskibraka, mulai dari Lambang Anggota, Lambang Korps, Kendit Kecakapan sampai Tanda Pengukuhan (Lencana Merah-Putih Garuda/MPG). Nama Paskibraka dan atribut baru itulah yang dipakai sejak tahun 1973 sampai sekarang. Sulitnya penyebutan akronim Paskibraka memang sempat mengakibatkan kesalahan ucap pada sejumlah reporter televisi saat melaporkan siaran langsung pengibaran bendera pusaka setiap tanggal 17 Agustus di Istana Merdeka. Bahkan, tak jarang wartawan media cetak masih ada yang salah menuliskannya dalam berita, misalnya dengan ”Paskibrata”. Tapi, bagi para anggota Paskibraka, Purna (mantan) Paskibraka maupun orang-orang yang terlibat di dalamnya, kata Paskibraka telah menjadi sesuatu yang sakral dan penuh kebanggaan.

Memang pernah, suatu kali nama Paskibraka akan diganti, bahkan pasukannya pun akan dilikuidasi. Itu terjadi pada tahun 2000 ketika Presiden Republik Indonesia dijabat oleh KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Kata ”pusaka” yang ada dalam akronim Paskibraka dianggap Gus Dur mengandung makna ”klenik”. Untunglah, dengan perjuangan keras orang orang yang berperan besar dalam sejarah Paskibraka, akhirnya niat Gus Dur untuk melikuidasi Paskibraka dapat dicegah. Apalagi, Peraturan Pemerintah No. 40 Tahun 1958 tentang Bendera Kebangsaan Republik Indonesia, pada pasal 4 jelas-jelas menyebutkan: (1) BENDERA PUSAKA adalah Bendera Kebangsaan yang digunakan pada upacara Proklamasi Kemerdekaan di Jakarta pada tanggal 17 Agustus 1945. (2) BENDERA PUSAKA hanya dikibarkan pada tanggal 17 Agustus. (3) Ketentuan-ketentuan pada Pasal 22 tidak berlaku bagi BENDERA PUSAKA. (Pasal 22: Apabila Bendera Kebangsaan dalam keadaan sedemikian rupa, hingga tak layak untuk dikibarkan lagi, maka bendera itu harus dihancurkan dengan mengingat kedudukannya, atau dibakar). Itu berati, bila Presiden ngotot mengubah nama Paskibraka, berarti dia melanggar PP No. 40 Tahun 1958. Presiden akhirnya tidak jadi membubarkan Paskibraka, tapi meminta namanya diganti menjadi ”Pasukan Pengibar Bendera Merah-Putih” saja. Hal ini di-iyakan saja, tapi dalam siaran televisi dan pemberitaan media massa, nama pasukan tak pernah diganti. Paskibraka yang telah menjalani kurun sejarah 32 tahun tetap seperti apa adanya, sampai akhirnya Gus Dur sendiri yang dilengserkan.

Paskibraka adalah singkatan dari Pasukan Pengibar Bendera Pusaka dengan tugas utamanya mengibarkan duplikat bendera pusaka dalam upacara peringatan proklamasi kemerdekaan Indonesia di Istana Negara. Anggotanya berasal dari pelajar Sekolah Lanjutan Tingkat Atas kelas 1 atau 2. Penyeleksian anggotanya biasanya dilakukan sekitar bulan April untuk persiapan pengibaran pada 17 Agustus di beberapa tingkat wilayah, provinsi, dan nasional.

Lambang

Pada awal berdirinya, lambang yang dipergunakan adalah bintang segi lima besar,untuk melambangkan pemuda. Pada tahun 1973 Bapak H.Idik Sulaeman menetapkan lambang setangkai bunga teratai yang bermakna sebagai berikut :

  1. Setangkai bunga teratai yaitu :
    Anggota Paskibra adalah pemuda yang tumbuh dari bawah ( orang biasa ) dari tanah air yang sedang berkembang dan membangun.
  2. Tiga helai bunga yang tumbuh ke atas yaitu :
    Belajar – Bekerja – Bekerji
  3. Tiga helai daun yang tumbuh mendatar yaitu :
    Aktif dan disiplin
  4. Jumlah mata Rantai mengelilingi ada 32 yang terdiri
    Putri lambangnya lingkaran yang berjumlah 16 buah
    2.Putra lambangnya belah ketupat yang berjumlah 16 buah ( keduanya melambangkan persatuan dari kesatuan )
  5. Warna hijau melambangkan Pemuda yang kreatif
  6. Bunga teratai dilingkari 16 lingkaran dan 16 buah belah ketupat
    Artinya anggota Paskibra dari 16 Penjuru arah mata angin tanpa
    membeda – bedakan SARA ( Suku,Adat,Rasa,dan Agama ).

Sejarah

Gagasan Paskibraka lahir pada tahun 1946, pada saat ibukota Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta. Memperingati HUT Proklamasi Kemerdekaan RI yang ke-1, Presiden Soekarno memerintahkan salah satu ajudannya, Mayor (Laut) Husein Mutahar, untuk menyiapkan pengibaran bendera pusaka di halaman Istana Gedung Agung Yogyakarta. Pada saat itulah, di benak Mutahar terlintas suatu gagasan bahwa sebaiknya pengibaran bendera pusaka dilakukan oleh para pemuda dari seluruh penjuru Tanah Air, karena mereka adalah generasi penerus perjuangan bangsa.

Tetapi, karena gagasan itu tidak mungkin terlaksana, maka Mutahar hanya bisa menghadirkan lima orang pemuda (3 putra dan 2 putri) yang berasal dari berbagai daerah dan kebertulan sedang berada di Yogyakarta. Lima orang tersebut melambangkan Pancasila. Sejak itu, sampai tahun 1949, pengibaran bendera di Yogyakarta tetap dilaksanakan dengan cara yang sama.

Ketika Ibu kota dikembalikan ke Jakarta pada tahun 1950, Mutahar tidak lagi menangani pengibaran bendera pusaka. Pengibaran bendera pusaka pada setiap 17 Agustus di Istana Merdeka dilaksanakan oleh Rumah Tangga Kepresidenan sampai tahun 1966. Selama periode itu, para pengibar bendera diambil dari para pelajar dan mahasiswa yang ada di Jakarta.

Tahun 1967, Husein Mutahar dipanggil presiden saat itu, Soekarno, untuk menangani lagi masalah pengibaran bendera pusaka. Dengan ide dasar dari pelaksanaan tahun 1946 di Yogyakarta, beliau kemudian mengembangkan lagi formasi pengibaran menjadi 3 kelompok yang dinamai sesuai jumlah anggotanya, yaitu:

  • Kelompok 17 / pengiring (pemandu),
  • Kelompok 8 / pembawa (inti),
  • Kelompok 45 / pengawal.

Jumlah tersebut merupakan simbol dari tanggal Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945 (17-8-45). Pada waktu itu dengan situasi kondisi yang ada, Mutahar hanya melibatkan putra daerah yang ada di Jakarta dan menjadi anggota Pandu/Pramuka untuk melaksanakan tugas pengibaran bendera pusaka. Rencana semula, untuk kelompok 45 (pengawal) akan terdiri dari para mahasiswa AKABRI (Generasi Muda ABRI) namun tidak dapat dilaksanakan. Usul lain menggunakan anggota pasukan khusus ABRI (seperti RPKAD, PGT, marinir, dan Brimob) juga tidak mudah. Akhirnya diambil dari Pasukan Pengawal Presiden (PASWALPRES) yang mudah dihubungi karena mereka bertugas di Istana Negara Jakarta.

Mulai tanggal 17 Agustus 1968, petugas pengibar bendera pusaka adalah para pemuda utusan provinsi. Tetapi karena belum seluruh provinsi mengirimkan utusan sehingga masih harus ditambah oleh ex-anggota pasukan tahun 1967.

Pada tanggal 5 Agustus 1969, di Istana Negara Jakarta berlangsung upacara penyerahan duplikat Bendera Pusaka Merah Putih dan reproduksi Naskah Proklamasi oleh Suharto kepada Gubernur/Kepala Daerah Tingkat I seluruh Indonesia. Bendera duplikat (yang terdiri dari 6 carik kain) mulai dikibarkan menggantikan Bendera Pusaka pada peringatan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1969 di Istana Merdeka Jakarta, sedangkan Bendera Pusaka bertugas mengantar dan menjemput bendera duplikat yang dikibar/diturunkan. Mulai tahun 1969 itu, anggota pengibar bendera pusaka adalah para remaja siswa SLTA se-tanah air Indonesia yang merupakan utusan dari seluruh provinsi di Indonesia, dan tiap provinsi diwakili oleh sepasang remaja.

Istilah yang digunakan dari tahun 1967 sampai tahun 1972 masih “Pasukan Pengerek Bendera Pusaka”. Baru pada tahun 1973, Idik Sulaeman melontarkan suatu nama untuk Pengibar Bendera Pusaka dengan sebutan PASKIBRAKA. PAS berasal dari PASukan, KIB berasal dari KIBar mengandung pengertian pengibar, RA berarti bendeRA dan KA berarti PusaKA. Mulai saat itu, anggota pengibar bendera pusaka disebut Paskibraka.

 Husein Mutahar (lahir di Semarang, Jawa Tengah, 5 Agustus 1916 – meninggal di Jakarta, 9 Juni 2004 pada umur 87 tahun), atau lebih dikenal dengan nama H. Mutahar, adalah seorang komposer musik Indonesia, terutama untuk kategori lagu kebangsaan dan anak-anak. Lagu ciptaannya yang populer adalah himne Syukur (diperkenalkan Januari 1945) dan mars Hari Merdeka (1946). Karya terakhirnya, Dirgahayu Indonesiaku, menjadi lagu resmi ulang tahun ke-50 Kemerdekaan Indonesia.

Ia mengecap pendidikan setahun di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada periode 1946-1947, setelah tamat dari MULO B (1934) dan AMS A-I (1938). Pada tahun 1945, Mutahar bekerja sebagai Sekretaris Panglima Angkatan Laut RI di Jogjakarta, kemudian menjadi pegawai tinggi Sekretariat Negara di Jogjakarta (1947). Selanjutnya, ia mendapat jabatan-jabatan yang meloncat-loncat antardepartemen. Puncak kariernya barangkali adalah sebagai Duta Besar RI di Tahta Suci (Vatikan) (1969-1973). Ia diketahui menguasai paling tidak enam bahasa secara aktif. Jabatan terakhirnya adalah sebagai Penjabat Sekretaris Jenderal Departemen Luar Negeri (1974).

Mutahar aktif dalam kegiatan kepanduan. Ia adalah salah seorang tokoh utama Pandu Rakyat Indonesia, gerakan kepanduan independen yang berhaluan nasionalis. Ia juga dikenal anti-komunis. Ketika seluruh gerakan kepanduan dilebur menjadi Gerakan Pramuka, Mutahar juga menjadi tokoh di dalamnya. Namanya juga terkait dalam mendirikan dan membina Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka), tim yang beranggotakan pelajar dari berbagai penjuru Indonesia yang bertugas mengibarkan Bendera Pusaka dalam upacara peringatan Hari Kemerdekaan RI.

Mutahar meninggal dunia di Jakarta pada usia hampir 88 tahun akibat sakit tua. Selama hidupnya ia tidak pernah menikah.

H. Idik Sulaeman Nataatmadja, AT (lahir di Kuningan, Jawa Barat, 20 Juli 1933), atau biasa dipanggil dengan Idik Sulaeman adalah pencetus nama PASKIBRAKA. Adik didik Husein Mutahar di kepanduan ini jugalah yang menyempurnakan seluruh kelengkapan Paskibraka sebagai sebuah Korps, mulai dari sistem/metode pelatihan, silabus, atribut dan kelengkapannya.

Idik menghabiskan masa kecil di daerah kelahirannya, sampai tamat SMP di Purwakarta dan pindah ke Jakarta saat masuk SMA. Sejak kecil, jiwa seni sudah terlihat dalam dirinya. Tak heran bila setamat SMA Idik memilih seni rupa sebagai pilihan profesinya dengan menamatkan pendidikan sebagai sarjana seni rupa di Departemen Ilmu Teknik Institut Teknologi Bandung ITB pada 9 April 1960.

Idik Sulaeman memulai kariernya di Balai Penelitian Tekstil (1960-1964). Pada 1 Februari 1965 ia diangkat menjadi Kepala Biro Menteri Perindustrian dan Kerajinan yang saat itu dijabat Mayjen TNI dr. Azis Saleh.

Dunia seni dan tekstil harus ditinggalkan ketika Idik pindah kerja ke Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud), sebagai Kepala Dinas Pengembangan dan Latihan pada 1 Desember 1967. Saat inilah, ia banyak membantu Husein Mutahar dalam mewujudkan gagasannya membentuk Paskibraka.

Bersama dengan para pembina lainnya, Idik membantu Mutahar menyempurnakan konsep pembinaan Paskibraka. Pasukan yang pada tahun 1966 dan 1967 diberi nama Pasukan Pengerek Bendera Pusaka, pada tahun 1973 mendapat nama baru yang dilontarkan oleh Idik. Nama itu adalah PASKIBRAKA, yang merupakan akronim dengan kepanjangan PASuKan PengIBar BendeRA PusaKA.

Selain memberi nama, Idik juga menyempurnakan wujud Paskibraka dengan menciptakan Seragam Paskibraka, Lambang Korps, Lambang Anggota, serta Tanda Pengukuhan berupa Lencana Merah-Putih Garuda (MPG) dan Kendit Kecakapan.

Pada 30 Juni 1975, ia diangkat menjadi Kepala Sub Direktorat (Kasubdit) Pembinaan Kegiatan di Direktorat Pembinaan Generasi Muda (Ditbinmud). Pada 9 Maret 1977, ia mencapai posisi puncak di Ditbinmud setelah ditunjuk sebagai Pelaksana Harian Direktur Pembinaan Generasi Muda, Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah dan Olahraga (Ditjen PLSOR). Tiga tahun penuh ia benar-benar menjadi ”komandan” dalam latihan Paskibraka, yakni Paskibraka 1977, 1978 dan 1979.

Pada 24 November 1979, Idik ditarik ke Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah Dikdasmen) dan menjabat Direktur Pembinaan Kesiswaan sampai 15 November 1983. Selama empat tahun itu, dengan latar belakang pendidikan seni rupa dan pengalaman kerja di bidang tekstil, Idik mencatat sejarah dalam penciptaan seragam sekolah yang kita kenal sampai sekarang: SD putih-merah, SMP putih-biru dan SMA putih-abu-abu, lengkap dengan lambang sekolah dasar (SD) dan OSIS yang kini selalu melekat di saku kiri seragam sekolah.

Idik menikah dengan Aisah Martalogawa pada 29 Oktober 1961, Idik dikaruniai tiga anak, yakni Ir. Ars Isandra Matin Ahmad (yang beristrikan Ir.ars Retno Audite), Isantia Dita Asiah (yang bersuamikan Drs. Mohammad Imam Hidayat), dan Dra Isanilda Dea Latifah yang bersuamikan Ari Reza Iskandar). Dari ketiganya, Idik memiliki enam orang cucu, masing-masing 3 cucu laki-laki dan 3 cucu perempuan.

Nama paskibra dulu adalah RUKIBRA ( Regu Pengibar Bendera ). Kemudian nama ini diganti lagi menjadi Bar-Bar ( Barisan Pengibar Bendera ) dan kemudian berubah lagi menjadi PASKIBRAKA ( Pasukan Pengibar Bendera Pusaka ) Kalau kita lihat sistematisnya yakni menjadi :

–          RUKIBRA ( Regu Pengibar Bendera ) yaitu pada pemerintahan Ir. Soekarno

–          BAR – BAR ( Barisan Pengibar Bendera ) yaitu pada pemerintahan Gusdur

–          PASKIBRAKA ( Pasukan Pengibar Bendera Pusaka ) ini di pelopori oleh Idik Sulaeman yang mencetuskan nama PASKIBRAKA pada tahun 1973 dan dipakai lagi pada pemerintahan Megawati sampai sekarang

Kemudian ciri khas dari PASKIBRA ini adalah Rasa senasib sepenanggungan dan diman paskibra ini terdiri dari 3 tingkatan .

–          Kabupaten / Kota

–          Provinsi

–          Nasional

 Tujuan Paskibra

  • Membentuk pemuda yang bermental baik
  • Membentuk persaudaraan antar pemuda / pemudi
  • Menjadikan pemuda sebagai pelopor dan pandu Ibu Pertiwi

GERAKAN DALAM PASKIBRA

            Gerakan dalam paskibra terbagi kedalam gerakan STATIS ( Di tempat ) Dan Dinamis ( Berjalan )  Variasi dan Formasi ( ke indahan Gerakan ) yang mengabungkan antara gerakan Statis dan di namis.

Gerakan Statis  ( Di tempat )

terbagi kedalam beberapa gerakan yaitu :

  1. Berkumpul
  2. Sikap Sempurna
  3. Hormat
  4. Istirahat
  5. Periksa Kerapihan
  6. Lencang Kanan
  7. Setengah lencang kanan
  8. Lencang kiri
  9. Setengah lencang kiri
  10. Berhitung dalam Saf
  11. Berhitung dalam Banjar
  12. Hadap kanan
  13. Hadap serong kanan
  14. Balik kanan
  15. Hadap kiri
  16. Hadap serong kiri
  17. Jalan di tempat
  18. Hadap kanan jalan di tempat
  19. Hadap serong kanan jalan di tempat
  20. Balik kanan jalan di tempat
  21. Hadap kiri jalan di tempat
  22. Hadap serong kiri jalan ditempat
  23. 3 langkah kebelakang
  24. 3 langkah ke kiri
  25. 3 langkah ke depan                Bisa untuk jalan di tempat
  26. 3 langkah ke kanan

Gerakan Dinamis ( Berjalan )

Terbagi kedalam beberapa gerakan yaitu :

  1. Langkah Tegap
  2. Langkah Biasa
  3. Balik kanan maju jalan / langkah tegap
  4. Hadap kanan maju jalan / langkah tegap
  5. Hadap kiri maju jalan / langkah tegap
  6. Tiap-tiap banjar 2x belok kanan maju jalan / langkah tegap
  7. Tiap-tiap banjar 2x belok kiri maju jalan / langkah tegap
  8. Belok kanan maju jalan / langkah tegap
  9. 2 x belok kanan maju jalan / langkah tegap
  10. Belok kiri maju jalan / langkah tegap
  11. 2 x belok kiri maju jalan / langkah tegap
  12. Hormat kanan  maju jalan / langkah tegap
  13. Hormat kiri maju jalan / langkah tegap
  14. Buka barisan
  15. Tutup barisan
  16. Langkah perlahan.
  17. Melintang kanan
  18. Melintang kiri
  19. Haluan kanan
  20. Haluan kiri

Gerakan Variasi dan Formas

Yaitu gerakan gabungan antara setatis dan dinamis dan di gabungkan dengan keindahan gerakan yang biasanya membentuk suatu keindahan yang mengambarkan sesuatu dengan gerakan seperti lamabang arah mata angin, lamabang atau logo, dan macam lainya.

LENCANA KEHORMATAN ( LK )

 Lencana Kehormatan ( LK ) ini terbagi menjadi 5 tingkatan

  1. A. Lencana Kehormatan ( LK ) Sekolah yaitu Warna Putih

B. Lencana Kehormatan ( LK ) Abu-abu atau Telur Asin  yakni satu tingkatan

diatas LK Putih yaitu tingkat Kabupaten

  1. Lencana Kehormatan ( LK ) Hijau untuk PASKIBRAKA tingkat Kabupaten / Kota dan Juga tingkat Provinsi
  2. Lencana Kehormatan ( LK ) Merah yakni melambangkan Paskibra yang sudah di lantik di Nasional jadi LK ini untuk tingakatan PASKIRAKA Nasional
  3. Lencana Kehormatan ( LK ) Warna kuning untuk Kenaikan Pangkat
  4. Lencana Kehormatan ( LK ) Warna Ungu / Violet Untuk Prmbina atau pelatih dan Pejabat pemerintahan.

LK hijau untuk menjadi LK merah butuh 5 tahun pengabdian terhadap daerahnya sendiri.

Pembina Pasukan Pengkibar Bendera

SMP Negeri 1 Manonjaya

Yuni Yudiarti, S.Pd, S.Kom

Struktur Kepengurusan

Kordinator : Khairunisa Wahyu Hidayat

Wakil Kordinator : Azka Maulidya

Seketaris : Fryda Mutia Rahayu

Bendahara : Agis Ardiansyah

Binlat : Taufik Cahya Ramadhan



CARI TULISAN


PENGUMUMAN TERBARU

Akreditasi Sekolah

Terakreditasi A

Sekolah Standar Nasional

JADWAL KEGIATAN


LOGIN FORM



Lupa Password? | Register »

POLLING SINGKAT

Buku Tamu

Buku Tamu

RANDOM ARTIKEL

BERITA LAINNYA

RADOM PAGE

GALERI PHOTO

PENSI H5, Fashion Limbah dan Mojang Jajaka PENSI H4 PORAK SMPN 1 Manonjaya, 2019

KONTAK KAMI